Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Model
pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga
tujuan penting pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap
keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000: 7).
Menurut Slavin
(1997), pembelajaran kooperatif, merupakan model pembelajaran dengan siswa
bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen.
Pembelajaran
kooperatif atau cooperative learning mengacu pada model pengajaran, siswa
bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nur dan
Wikandari, 2000: 25).
Eggen dan
Kauchak (1993: 319) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan
strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling membantu dalam
mempelajari sesuatu.
Macam-Macam
Model Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 macam
model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001), yaitu:
- Student Teams Achievement Division (STAD)
- Group Investigation
- Jigsaw
- Structural Approach
Sedangkan dua
pendekatan lain yang dirancang untuk kelas-kelas rendah adalah:
- Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8 (setingkat TK sampai SD), dan
- Team Accelerated Instruction (TAI) digunakan pada pembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK).
Model
pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan,
dan struktur penghargaan (Arends, 1997: 110-111).
- Struktur tugas mengacu pada cara pengaturan pembelajaran dan jenis kegiatan siswa dalam kelas
- Struktur
tujuan, yaitu sejumlah kebutuhan yang ingin dicapai oleh siswa dan guru pada
akhir pembelajaran atau saat siswa menyelesaikan pekerjaannya. Ada tiga macam
struktur tujuan, yaitu: Struktur tujuan
individualistik
Struktur tujuan kompetitif
Struktur tujuan kooperatif - Struktur penghargaan kooperatif, yaitu penghargaan yang diberikan pada kelompok jika keberhasilan kelompok sebagai akibat keberhasilan bersama anggota kelompok.
Ciri-Ciri dan
Tahapan pada Model Kooperatif
Menurut Arends
(1997: 111), pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
- siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar,
- kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah,
- jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda,
- penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
Pembelajaran
kooperatif dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut (Ibrahim, M.,
dkk., 2000: 10)
- Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran.
- Menyampaikan informasi.
- Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
- Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok.
- Evaluasi atau memberikan umpan balik.
- Memberikan penghargaan.
Tujuan
Pembelajaran Kooperatif
Model
pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga
tujuan pembelajaran yang disarikan dalam Ibrahim, dkk (2000:7-8) sebagai
berikut:
- Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.
- Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain.
- Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.
Ketrampilan
Pembelajaran Kooperatif
Melalui model
ini diharapkan tidak cuma kemampuan akademik yang dimiliki siswa tetapi juga
ketrampilan yang lain.
Keterampilan-keterampilan itu menurut Ibrahim, dkk. (2000:47-55), antara
lain:
- Keterampilan-keterampilan Sosial
- Keterampilan Berbagi
- Keterampilan Berperan Serta
- Keterampilan-keterampilan Komunikasi
- Pembangunan Tim
- Keterampilan-keterampilan Kelompok
0 komentar:
Posting Komentar